Selasa, 19 Agustus 2014

PERANG STATUS



Ada beberapa manusia yang selalu merasa perlu mengabarkan dirinya pada sekitar. Apa yang terjadi padanya, apa sedang dilakukannya, apa yang sedang menimpanya dan apa pula yang sedang dirasakan olehnya. Manusia-manusia tipe ini mungkin hendak berbuat baik pada teman-teman yang sibuk, teman-temannya yang tak sempat bertanya kabar padanya, maka dari itu dia merasa perlu untuk mengupdate sendiri statusnya, baik di bbm, fb, twitter, path, whatsapp dll. So, kebaikannya ini tentu harus diapresiasi dan dihargai bukan justru dicibir dan dianggap tak penting. Karena penting dan tidak pentingnya suatu hal itu tergantung bagi individu, setiap individu punya kebutuhan yang berbeda jadi artinya kepentingan mereka juga tak bisa disama ratakan satu dengan yang lainnya. 

Namun sayangnya pemberian kabar tentang dirinya pada publik dan khalayak umum itu kadang tak sadar terlihat kurang dewasa. Dimana dia lebih suka mengkonfirmasi suatu hal lewat status ketimbang bicara langsung ke orang yang dimaksud. Entah apa yang dirasakannya, bahwa sebuah permasalahan sangat membutuhkan konfirmasi dan penyelesaian secara REAL dan bukan menjelaskan lewat status. Sampai kemudian ada segelintir orang yang senang melakukan perang status, mencoba mengkonfirmasi permasalahan lewat status, bermaksud menjelaskan duduk persoalan lewat status. Sampai lalu bukan terang yang didapat dan bukan pula solusi yang dihasilkan. Tapi justru melebarnya masalah karena jadi banyak orang yang tahu dan juga meluasnya persoalan karena banyak masukan yang keliru.  

Jika seperti itu maka berarti manusia tersebut tak bisa menghargai dirinya sendiri, jadi bagaimana dia bisa menghargai orang lain, karena dia sendiri tak bisa membedakan dan membagi mana yang baik dan tidak baik untuk dibuat status dan bisa dibagi ke publik. Maka bersikaplah ksatria dan dewasa untuk kembali berpikir sebelum membuat status. Buatlah status yang mencerahkan terutama dalam menggali makna diri dan bukan status ingin menyakiti atau sekedar mencari sensasi demi eksistensi diri namun kosong tak ada isi.

Tidak ada komentar: