Selasa, 19 Agustus 2014

DATAR



Setiap manusia dilahirkan mempunyai rasa, tentang bahagia dan sedih, tentang suka dan duka, tentang gembira dan sengsara. Tak ada manusia yang tak memiliki rasa, apalagi sampai tidak bisa merasa. Bahkan bayi pun punya rasa, saat lapar dia akan menangis, saat kenyang ia akan ceria tertawa. Tapi anehnya ada loh manusia yang setengah rasa, alias cenderung flat. Santai menghadapi ini dan itu, tenang saja dengan semuanya, datar tak bergejolak.

Entah apa yang menyebabkan manusia yang satu ini cenderung flat dengan semua. Eh tapi nggak flat juga sih, kadang doi mellow abis dengan yang mengharu biru, rada sensitif dengan yang berbau duka. Tapi kalau diberi hadiah anehnya responnya datar saja nggak ada sama sekali tanda girangnya. Seperti tak menghargai pemberian orang lain, tak berterimakasih atas hadiah orang lain. Cuma sekedar mengucap terimakasih dengan wajah sendu cenderung datar. Tentu hal ini membuat doi tak enak hati karena dibilang tak menghargai hingga khawatir menyakiti. Padahal tak ada maksud dengan itu, tapi penyimpulan orang lain kadang tak bisa dipaksa.

Maka suatu hari doi pun ingin bisa ekspresif merespon semua yang terjadi di depan matanya. Merubah sikap agar tak selalu santai dan cuek, lebih berekpresi saat menghadapi momen-momen penting atau tak penting. Karena yang penting doi bisa lebih meluapkan apa yang di rasa di hatinya lewat mimik wajahnya, karena wajah datar terlalu menyakiti hati orang lain yang peduli padanya, karena doi tak ingin ada miss komunikasi dengan siapapun itu.

Tapi bagaimana cara belajar ekspresif? Sedangkan datar dan santai dirinya sudah bawaan bayi. Apa dengan lebih banyak senyum, lebih banyak ketawa atau lebih banyak menarik kedua ujung bibir sepanjang hari. Tidak planga-plongo saat merespon, bingung-bingung saat  ditanya, apalagi sampai cuek memalingkan wajah.

Susah kalau sudah bawaan orok, sikap flatnya ini seperti sudah menyatu padanya. Doi ini lebih nyaman dan nyambung jika berekspresi lewat tulisan. Karena jika lewat dunia nyata, beradu pandang, bertatap muka maka yang ada hanya datar seolah acuh. Padahal sebenarnya doi peduli, tapi tak bisa di depan mengekspresikannya. Bahkan saking datarnya, senyum yang muncul pun hanya sekedarnya, tak mengembang indah.

Sayang sebenarnya jenis manusia seperti ini, mungkin dulu waktu kecilnya mentalnya tak kuat seperti baja, terlalu banyak ditimpa nestapa, tak banyak ceria di dekatnya. Hingga pada akhirnya doi berlalu dan memilih pada datar saja dan kembali lelap untuk tak berlebihan. Maka baiknya mulai sekarang buatlah diri untuk mau ekspresif tak melulu kan orang ekspresif itu lebay, beri ruang pada hatimu untuk mengubur saja segala yang yang dianggap duka, ganti saja itu dengan ceria dan suka, agar terang kembali jiwamu, cerah kembali hatimu dengan rasa yang lebih berwarna.

Hmmm,,, mari ekspresif!

Tidak ada komentar: