Rabu, 19 November 2014

PALESTINA



Saudaraku kau jauh di sana tapi hati terasa dekat saat melihat beritamu di layar berkotak.

Kau berjuang di sana bertaruh segala rupa, terasa bayangan maut berdiri sejajar karena segala senjata pemusnah massal datang bergantian.

Bom rudal berdentum berusaha menakuti, agar mental melemah, jiwa menciut, hati luluh menyerah.

Namun tak ada yang melemah, menciut apalagi takut lalu menyerah.

Mental mereka semakin kekar, jiwa pun tangguh hingga hatinya tak bisa tergadaiapalagi terserai berai.

Karena mereka yakin dan tahu sejak dulu, bahwa kuasaNya jauh lebih besar dari kuasa manusia manapun yang mengaku sempurna di sana. 

SUARA HATI POHON HIAS



 Aku rindu ia, gemericik air yang jatuh membuatku tenang. Ada damai yang terasa saat alunan air yang jatuh dari langit itu menyentuh tanah lalu terserap olehku, membasahi kulit dan menelusup ke dalam rongga pori tanah.

Tentu tak akan ada lagi muram durja, karena kan ada senyum bahagia jikalau mendapat air berlimpah dari atas langit. Segar terasa katanya, karena sudah lama pucuk di ujung dahan dan ranting menghitam gosong tak bertemu sahabat sejati sang air.

Sebenarnya air banyak tersedia di dalam toren air, bak mandi atau kran air, namun sayang tak ada yang bisa mengantarkannya untuk sampai ke tubuhku. manusia-manusia itu amat sibuk bahkan amat lalai hingga acuh padaku. Pohon-pohon tanaman hias yang menggantung dan berjejer di pekarangan rumahnya, padahal setiap hari dan setiap pagi dilewati.

RIMA RINDU



Ada yang bilang obat rindu itu bertemu

Namun ternyata tak semuanya begitu

Karena jika yang dirindu tak membalas rindu

Maka sama saja palsu

Tak ada yang syahdu

Jangan berharap berbunyi merdu

Karena yang ada saat rindu kamu tak dia tahu, adalah

Laksana bunga yang tak mengandung madu

Laksana kembang yang telah layu

Laksana layar robek di perahu

Laksana emas yang diselimuti abu

Laksana yatim piatu yang tak punya orang tua untuk mengadu

Laksana daging sapi yang telah membiru

Tak ada indah, suka apalagi ceria disitu

Sampai lalu semuanya pun berubah ragu

GALAU AKUT



Ada manusia yang senang memberikan sinyal tentang kondisi yang dialaminya. Memberikan pertanda tentang apa yang dirasa dan tengah dialaminya. Bisa lewat status atau gambar BBM, whats app, line atau status media sosial dan lain-lainnya. Mulai dari memasang gambar hitam pekat, keluh-kesah di status, mengumpat aneka kata, karena merasa gamang nan resah dengan semuanya. 

Sinyal atau pertanda yang diperlihatkan ke publik ini, seolah mencari perhatian orang lain. Tapi faktanya sebagian dari orang yang berlaku seperti ini justru saat ditanya tak mau menjawab. Entah karena memang tak mau bercerita atau orang yang bertanya bukan yang diharap dan dimaksud.

Tapi memang setiap orang beda karakter, beda sifat juga tingkah lakunya. Tak semua orang saat galau mau bercerita dan menceritakan lalu menumpahkan keluh kesahnya. Maka siap-siaplah bertelinga tebal saat kau tengah mencoba ingin membantu temanmu yang tengah galau akut namun justru dia bukan hanya diam tapi mendaratkan kata-kata yang sedikit mengagetkan seolah tak terima dengan niat membantumu.

“Kenapa? Tak ada kabar. Ada masalah? “

“Apa untungnya buat anda untuk Tanya-tanya. Saya bisa sendiri, nggak usah urus masalah saya, rasanya banyak hal lain yang penting yang  lebih baik anda urusi. Saya bisa mengurus diri sendiri”

JLEB!

Nah kalau sudah dia bilang seperti itu baiknya diam saja, jangan justru dikasih nasihat. Orang model ini tak mempan untuk diberi masukan saat ini. Jika kau memaksa untuk tetap memberikan masukan maka yang terjadi adalah “Simpan saja kata-kata anda mungkin orang lain lebih membutuhkan karena saya tak pantas dan tak tepat menerimanya…”
Hehehe…

Kadang memang tak semua orang senang atau suka diingatkan dalam kebaikan. Merasa digurui dan diceramahi, merasa di siram dengan tamparan kata, merasa diajari karena diri sudah besar, umur pun sudah dewasa. Jadi  tak perlu lagi diajar-ajari orang, apalagi digurui karena masa sekolahnya pun sudah lewat lama.

Padahal seorang atlet profesional sekalipun membutuhkan pelatih ahli untuk membantunya berlatih guna membantunya tetap stabil dan mahir. Tak akan bisa dia berlatih sendiri walau sekalipun juara dunia telah dikantonginya.

Banyak hal sebenarnya yang membuat orang galau. Mulai dari harapan dan mimpi yang belum juga terwujud, diputus cinta, dibohongi orang terpercaya, masalah yang tak juga menemukan titik terang, hutang dimana-mana dan lain-lainnya. Dimana semua penyebab ini menjadi tak selera makan, tak selera mengerjakan tugas, inginnya selalu menagis, merasa menderita, terasa ditimpa batu besar, dada terasa sempit seolah terhimpit batu kali. Pokoknya semua tak ada enak-enaknya.

Banyak hal juga pelampiasaan orang-orang yang tengah dirundung galau alias gelisah nan resah. Diam menyendiri di kamar, menangis tersedu di bawah bantal, kesal dan marah pada nyata yang harus dihadapi dan dilewati, pergi berkelana yang jauh, curhat sesunggukan ke orang terdekat, menangis berhari-hari, marah-marah karena kecewa berat, bahkan kalau tak kuat melewati galau bisa gila dan hilang akal atau mati bunuh diri.

Pada intinya galau akan terus ada dan tetap ada jika rasa syukur kita sangat sedikit dalam hidup. Selain itu galau akan semakin menjadi-jadi saat rasa syukur kita sangat minim, jika dipresentasekan rasa syukur tak sampai 50 persen dari pengharapan yang telah dibuat. Makanya galau terus saja mendera, tak juga mau padam apalagi hilang. Jadi besarkan rasa syukurmu, karena pribadi yang bersyukur tak perlu galau saat yang dicita-citakan dan idam-idamkan belum terwujud. Yakinlah saja semua akan baik-baik saja, terlebih rasa syukur ini akan lebih mendamaikan dan membuat pribadi manusia menjadi kaya hati tak penuh emosi diri. 
 

TAK SEMUA INGAT MATI



Setiap hari bergelut pada sesuatu hal yang dekat dengan kematian, tidak bisa dipastikan orang itu akan ingat pada mati yang sebenarnya. Tak bisa dipastikan mereka yang bekerja dan beraktifitas pada kegiatan yang berhubungan dengan kematian, akan ingat mati dan berhati-hati dengan mati. Atau bahkan mempersiapkan bekalnya untuk menuju mati. 

Tukang gali kubur, sumringah bukan kepalang saat mendapat kerjaan menggali tanah kubur Jum’at pagi ini. Tiga orang tukang gali kubur terus saja menggali tanah pemakaman, sambil asyik mengepul rokok di jemari tangannya. Tak hirau dan tak peduli adzan dzuhur untuk shalat Jum’at telah berkumandang memanggil para lelaki juga pemuda memenuhi kewajibannya. Mereka cuek dengan itu dan tak peduli pada bekal kematiannya padahal liang lahat  dihadapinya setiap hari. 

Petugas kesehatan di rumah sakit rasanya sudah lumrah melihat manusia menghembuskan nafas terakhirnya, melihat manusia berjuang sesak nafas menderita sebelum maut datang, melihat segala macam penyakit ganas yang menyerang anak manusia seolah pertanda ajal telah dekat. Mereka yang bekerja di sana sudah terbiasa melihat keranda di gotong, ambulance mobil jenazah meraung, dan mereka terbiasa dengan itu semua. Tapi tak semua dari mereka mau berbekal untuk itu, malah terdapat dari mereka yang asik saja dengan nikmat senang jua hura-hura hingga lupa dan lalai untuk berbekal.

Adakah diantara kalian yang setiap hari beraktifitas bekerja melewati area pemakaman. Pulang-pergi lewat rute yang sama dikalikan lima hari dalam seminggu. Dikalikan sebulan lalu setahun lalu bertahun-tahun. Tapi sadarkah kita pada mati? Ingatkah kita pada mati saat lewat pemakaman setiap hari. Sadarkah kita kelak akan menempati tanah 2x2 meter di salah satu sudut area pemakaman. Rasanya jarang dan tak semuanya mau mencoba menalar lalu berbekal tentang ini.

“Banyak orang berpikir bagaimana caranya untuk hidup yang baik, tapi mereka lupa bagaimana cara untuk mati yang baik” KH. Hasan Abdullah Sahal