Senin, 25 Agustus 2014

IRONI



Banyak lelaki tapi tak seperti lelaki. Katanya menafkahi tapi sebatas jasmani dan melupakan ruhani.

Banyak wanita tapi tak seperti wanita. Cantik secara fisik tapi lisannya lebih sering berbisik sampai mengusik

Banyak guru tapi tak seperti guru. Karena berperilau tak pantas ditiru

Banyak pejabat tapi tak seperti pejabat. Karena seringkali berbuat hal-hal yang tak bermartabat

Banyak pelayan Negara tapi tak seperti pelayan Negara. Karena lebih senang mempersulit 
daripada melayani

Banyak orang kaya tapi tak seperti orang kaya. Karena punya harta tapi sering merasa menderita tak bahagia

Banyak karyawan tapi tak seperti karyawan. Karena bekerja dengan terpaksa hanya demi harta hingga haus jiwa

Banyak rumah tapi tak seperti rumah. Tak teduh karena para penghuninya sering acuh dan berlalu

Banyak orang dewasa tapi tak seperti orang dewasa. Tak mau dibilang tua, merasa muda seolah masih remaja

Banyak mahasiswa tapi tak seperti mahasiswa. Lupa diri menjadi agen perubahan karena lebih senang mencari kerja

Banyak pelajar tapi tak seperti pelajar, karena lebih senang tawuran lalu hajar menghajar sampai bersikap pun menjadi kurang ajar

Sebuah ironi  di negeri sendiri, tentang diri dan banyak pribadi yang sering kali bangga diri, padahal tak ada yang dilakui, agar mampu instropeksi dan tak lagi menghakimi.

Selasa, 19 Agustus 2014

BASA-BASI



Apa guna basa-basi? Sedangkan setiap tulisan tentu akan berbasi-basi dulu lewat kata pengantar, baru masuk ke bagian inti pembahasan.

Apa pentingnya basa-basi? Sedangkan kenyataannya beberapa orang senang dipuja-puji, tak kasar apalagi emosi dan bicara to the point.

Apa maksudnya basa-basi? Sedangkan pada intinya isi basa-basinya lebih banyak gombalnya dari pada fakta. Sekedar ingin membuai agar tercapai tujuan.

Apa gerangan berbasa-basi? Sedangkan sebuah ketulusan hanya memerlukan sebuah kejujuran bukanlah kebohongan yang dibuat ada.

Apa tujuan basa-basi? Sedangkan hidup tak melulu berselimut suka, tapi bergelombang dan berkabut pula bersama duka.

Lalu apa perlu berbasa-basi? Sekedar kata pengantar atau ingin menutupi fakta dan data yang ada. Sekedar ingin mengakrabkan diri atau hanya ingin menggombal tebar pesona. Sekedar cari perhatian atau serius memang peduli. Sekedar cari sensasi atau memberi solusi.

Pada kenyataannya beberapa manusia suka dengan basa-basi, tidak langsung to the point ke inti pembahasan. Takut kaget nantinya, tak berimbang isinya, tak memberi jelas datanya. Hingga basa-basi pun dianggap penting dan berguna.

Namun ada juga beberapa manusia di sudut lain tak suka basa-basi, lebih senang to the point, lebih nyambung jika langsung ke inti permasalahan, lebih nyaman dengan tanpa basa-basi, agar tak makan banyak waktu dan bisa segera bertindak untuk mencari solusi.

Basa-basi bisa dianggap tak perlu jika bermaksud menjilat, membuai seseorang agar lupa dan terlena dengan kenyataan di depan mata. Membuatnya mengandai dengan jurus gombal-gembelnya bermaksud menjerat dan memikat tanpa beri bukti.

Tapi basa-basi bisa dianggap perlu jika hanya ingin membuat gambaran atau bayangan sebelum masuk ke inti permasalahan, agar tak salah paham dan salah persepsi. Basa-basi yang tepat guna dan tepat sasaran ini sama sekali tak ingin membuat pembuaian berlebihan terhadap sesuatu, karena hanya sekedar. Hemat kata basa-basi ini bukanlah mengharap puja-puji, karena bangga atas diri yang padahal cuma kuli pada nafsunya sendiri demi mencapai tujuan pribadi.

DATAR



Setiap manusia dilahirkan mempunyai rasa, tentang bahagia dan sedih, tentang suka dan duka, tentang gembira dan sengsara. Tak ada manusia yang tak memiliki rasa, apalagi sampai tidak bisa merasa. Bahkan bayi pun punya rasa, saat lapar dia akan menangis, saat kenyang ia akan ceria tertawa. Tapi anehnya ada loh manusia yang setengah rasa, alias cenderung flat. Santai menghadapi ini dan itu, tenang saja dengan semuanya, datar tak bergejolak.

Entah apa yang menyebabkan manusia yang satu ini cenderung flat dengan semua. Eh tapi nggak flat juga sih, kadang doi mellow abis dengan yang mengharu biru, rada sensitif dengan yang berbau duka. Tapi kalau diberi hadiah anehnya responnya datar saja nggak ada sama sekali tanda girangnya. Seperti tak menghargai pemberian orang lain, tak berterimakasih atas hadiah orang lain. Cuma sekedar mengucap terimakasih dengan wajah sendu cenderung datar. Tentu hal ini membuat doi tak enak hati karena dibilang tak menghargai hingga khawatir menyakiti. Padahal tak ada maksud dengan itu, tapi penyimpulan orang lain kadang tak bisa dipaksa.

Maka suatu hari doi pun ingin bisa ekspresif merespon semua yang terjadi di depan matanya. Merubah sikap agar tak selalu santai dan cuek, lebih berekpresi saat menghadapi momen-momen penting atau tak penting. Karena yang penting doi bisa lebih meluapkan apa yang di rasa di hatinya lewat mimik wajahnya, karena wajah datar terlalu menyakiti hati orang lain yang peduli padanya, karena doi tak ingin ada miss komunikasi dengan siapapun itu.

Tapi bagaimana cara belajar ekspresif? Sedangkan datar dan santai dirinya sudah bawaan bayi. Apa dengan lebih banyak senyum, lebih banyak ketawa atau lebih banyak menarik kedua ujung bibir sepanjang hari. Tidak planga-plongo saat merespon, bingung-bingung saat  ditanya, apalagi sampai cuek memalingkan wajah.

Susah kalau sudah bawaan orok, sikap flatnya ini seperti sudah menyatu padanya. Doi ini lebih nyaman dan nyambung jika berekspresi lewat tulisan. Karena jika lewat dunia nyata, beradu pandang, bertatap muka maka yang ada hanya datar seolah acuh. Padahal sebenarnya doi peduli, tapi tak bisa di depan mengekspresikannya. Bahkan saking datarnya, senyum yang muncul pun hanya sekedarnya, tak mengembang indah.

Sayang sebenarnya jenis manusia seperti ini, mungkin dulu waktu kecilnya mentalnya tak kuat seperti baja, terlalu banyak ditimpa nestapa, tak banyak ceria di dekatnya. Hingga pada akhirnya doi berlalu dan memilih pada datar saja dan kembali lelap untuk tak berlebihan. Maka baiknya mulai sekarang buatlah diri untuk mau ekspresif tak melulu kan orang ekspresif itu lebay, beri ruang pada hatimu untuk mengubur saja segala yang yang dianggap duka, ganti saja itu dengan ceria dan suka, agar terang kembali jiwamu, cerah kembali hatimu dengan rasa yang lebih berwarna.

Hmmm,,, mari ekspresif!

PERANG STATUS



Ada beberapa manusia yang selalu merasa perlu mengabarkan dirinya pada sekitar. Apa yang terjadi padanya, apa sedang dilakukannya, apa yang sedang menimpanya dan apa pula yang sedang dirasakan olehnya. Manusia-manusia tipe ini mungkin hendak berbuat baik pada teman-teman yang sibuk, teman-temannya yang tak sempat bertanya kabar padanya, maka dari itu dia merasa perlu untuk mengupdate sendiri statusnya, baik di bbm, fb, twitter, path, whatsapp dll. So, kebaikannya ini tentu harus diapresiasi dan dihargai bukan justru dicibir dan dianggap tak penting. Karena penting dan tidak pentingnya suatu hal itu tergantung bagi individu, setiap individu punya kebutuhan yang berbeda jadi artinya kepentingan mereka juga tak bisa disama ratakan satu dengan yang lainnya. 

Namun sayangnya pemberian kabar tentang dirinya pada publik dan khalayak umum itu kadang tak sadar terlihat kurang dewasa. Dimana dia lebih suka mengkonfirmasi suatu hal lewat status ketimbang bicara langsung ke orang yang dimaksud. Entah apa yang dirasakannya, bahwa sebuah permasalahan sangat membutuhkan konfirmasi dan penyelesaian secara REAL dan bukan menjelaskan lewat status. Sampai kemudian ada segelintir orang yang senang melakukan perang status, mencoba mengkonfirmasi permasalahan lewat status, bermaksud menjelaskan duduk persoalan lewat status. Sampai lalu bukan terang yang didapat dan bukan pula solusi yang dihasilkan. Tapi justru melebarnya masalah karena jadi banyak orang yang tahu dan juga meluasnya persoalan karena banyak masukan yang keliru.  

Jika seperti itu maka berarti manusia tersebut tak bisa menghargai dirinya sendiri, jadi bagaimana dia bisa menghargai orang lain, karena dia sendiri tak bisa membedakan dan membagi mana yang baik dan tidak baik untuk dibuat status dan bisa dibagi ke publik. Maka bersikaplah ksatria dan dewasa untuk kembali berpikir sebelum membuat status. Buatlah status yang mencerahkan terutama dalam menggali makna diri dan bukan status ingin menyakiti atau sekedar mencari sensasi demi eksistensi diri namun kosong tak ada isi.

Senin, 18 Agustus 2014

HIDUP NORMAL



Zaman dulu sebelum ada gadget, manusia hidup normal, bisa saling berinteraksi dengan baik dan menghargai. Kalau bicara ya melihat ke lawan bicara, kalau makan ya fokus ke piring, kalau jalan ya lurus pandangan ke depan, kalau menonton televisi ya lihatnya ke televisi, kalau dosen sedang menjelaskan juga konsentrasi ke dosen, kalau mengobrol ya saling nyambung pada topik yang dibahas dan kalau sebelum tidur ya baca doa lebih dulu. Tapi sekarang BEDA, saat gadget sudah menjadi candu bagi individu. Saat gadget atau smartphone menjadi begitu penting pada hidup manusia. Bisa dibilang tak terpisahkan dan sulit untuk dilupakan. 

Pada awalnya segala jenis perangkat dan aplikasi gadget adalah untuk memudahkan urusan hidup manusia dan tambahan lainnya seperti hiburan/games untuk mengusir kebosanan, kejenuhan manusia pada saat momen-momen tertentu seperti saat menunggu, mengantri, macet atau sekedar iseng mengisi waktu luang.

Namun faktanya kini gadget hadir bukan lagi pada momen tertentu semata, tapi ia datang pada setiap momen saat sedang berkegiatan atau di waktu luang. Artinya gadget bukan lagi dianggap sebagai pembantu dalam memudahkan urusan tapi kini berubah menjadi pelengkap hidup bahkan penyempurna hidup manusia. Jika sudah dianggap seperti itu, maka bisa dikatakan manusia tersebut tak bisa jika hidup tanpa gadget. Alhasil mereka pun akan merasa mati gaya, panik ngga bisa apa-apa, bingung mau melakukan apa, bosan tak ada hiburan, dan akan sangat bosan saat harus menunggu tanpa gadget di tangan.

Segala aplikasinya membuat (katanya) hilang jenuh dan hiburan pengusir sepi, segala programnya membuat (katanya) penyambung silaturahmi, segala perangkatnya (katanya) memudahkan dan menyelesaikan semua urusan. Sampai kemudian lupa pada sekitar kita, pada yang dekat dengan kita, pada yang ada di depan mata kita, dan acuh pada yang ada di dalam rumah kita (ibu,bapak,kakak, adik). Bisa dibilang mendekatkan yang jauh tapi sayangnya justru malah menjauhkan yang dekat, sehingga merasa terasing di lingkungan sendiri.

Kalau mengobrol sering kali sibuk sendiri menunduk tak peduli, pada lawan bicara di depan. Kalau makan tak bisa fokus hanya ke piring. Kalau jalan pun tak bisa lurus pandangan ke depan apalagi bisa sampai saling sapa dan tersenyum saat tak sengaja berpapasan dengan teman di jalan. Kalau menonton televisi juga tak bisa hanya melihat layar televisi. Kalau  dosen sedang menjelaskan juga rasanya sulit dan tak mampu konsentrasi pada materi dosen, sampai jemari ketak-ketik sibuk pada hp sendiri. Kalau  sebelum tidur pun sering kali bukan doa yang dibaca lebih dulu sebelum memejamkan mata, tapi gadget yang selalu setia berada di dekat kepala. Hingga saat mata terbuka di pagi hari pun, gadget menjadi yang pertama kali dicari.  Dan  bukanlah ucapan syukur dan doa untuk mengawali hari.

Terlebih bagimu kaum sebangsaku (perempuan), hati-hati dengan gadget barumu dengan aplikasi chattingnya yang (katanya) seru, untuk membunuh waktu agar tak jemu. Janganlah kamu mudah percaya karena banyak tipu-tipu disitu, jangan pula terlanjur terpaku pada teman chattingmu yang mengaku rindu di gadget barumu, mengumbar janji syahdu dan butuh sangat akan dirimu, tapi tak berani bertemu pada walimu. Sampai lalu barulah kamu tersadar dan tahu bahwa semua adalah harapan palsu yang semu.  

Sehingga tak ada lagi hidup normal, yang ada hanya manusia-manusia dengan kepala selalu menunduk, bukan bermaksud rendah hati tak mau disangka sombong. Tapi mereka terlanjur terpaku pada aplikasi yang terasa seru hingga lalu menjadi candu, dan tak sadar itu adalah keliru. Bahwa gadget baru di depanmu tak akan bisa menjadi guru yang baik bagimu, apalagi pengusir ragu dan gelisahmu. Terlebih lagi gadget barumu itu tak selalu bisa jadi penghibur dukamu, karena obat rindu adalah bertemu dan obat kegundahan hati adalah kembali pada Allahurabbi. (qr)