Minggu, 12 Oktober 2014

PURA-PURA





Adakah yang suka berpura-pura?
Perhatian pura-pura karena ingin itu
Simpati pura-pura karena mau itu
Peduli pura-pura karena kepingin itu
Suka pura-pura karena berasa itu 
Cinta pura-pura karena berharap itu

Dan pada akhirnya semua kepura-puraan kan lapuk, tak lama ia bisa bertahan, karena gelombangnya terlalu kuat menerjang, karena deburannya terlalu hebat menghantam dan karena masalah datang tak beri kabar dulu, mendadak dan mendesak.

Sebuah kepura-puraan akan hancur dan rapuh saat datang yang lebih bagus terasa silau menggoda hati dan sayang sekali untuk diangguri. 

Namun sayang sekali jika energi yang dimiliki dipakai untuk berpura-pura. Memakai topeng, bersembunyi dibalik gorden, lalu muncul dengan wajah menyeringai saat tertangkap basah. Tak mau dianggap salah apalagi biang masalah.

Tak ada ketulusan disitu,  karena di dalamnya hanya ada pura-pura belaka. Sampai akhirnya, bergantinya hari, berjalannya waktu, barulah tersadar ternyata pura-pura  jualah yang didapatinya.

Selasa, 07 Oktober 2014

AJAIB


Ada sebuah keajaiban pada blog sederhana ini, di bulan memasuki September terjadi peningkatan pada jumlah postingan. Gimana nggak ajaib coba? yang dari biasanya perbulan Cuma bisa posting tulisan diangka berkisar satuan dan belum ada belasan apalagi puluhannya. Maka di bulan September ini, aku berhasil membuat 15 tulisan yang diposting *prok prok prok. Ya, walau banyak yang nggak ngerti arti dan maksud  tulisan ini. Tapi setidaknya ada sebuah peningkatan dan perbaikan yang dilakukan oleh tubuh kurus kering ini. Yihaa.. 

Tapi memang banyak hal yang melatarbelakangi postingan blog di September ini bisa meningkat 50 % dari bulan-bulan sebelumnya. Adalah aneka macam hal dan peristiwa yang dialami selama sebulan ini yang mau tidak mau harus dihadapi agar terlewati. Semuanya memberi banyak pelajaran, mulai dari sebuah penekanan, penolakan, pencarian, penantian, pergulatan, kebahagiaan, kemumetan dan semuanya yang terjadi pada diri pribadi. 

Katanya memang kalau orang sedang terpuruk, dimana kondisi sedang down, dimana jiwa sedang galau, dimana hati sedang gundah gulana, dimana pikiran lagi mumet nggak karuan, dimana otak lagi suntuk, dimana kebosanan hidup menyerang, dimana mata tak fokus menatap, dimana bahagia dirasa cuma sekejab, dimana harapan belum menjadi nyata, dimana semua masalah itu menyerang lalu menimpa diri sampai jatuh lalu tersungkur dalam. 

Maka disitulah sebuah pergulatan bin pemberontakan jiwa dan hati bisa hadir menjadi sebuah karya. Baik itu karya hebat, fenomenal, sederhana, biasa bahkan biasa banget alias nggak penting dan nggak guna. Tapi semua itu adalah bukti kadang jiwa butuh cambukan, motivasi dan sentilan dulu untuk menjadi lebih baik dan terbaik di hari nanti, agar semua menjadi berarti dan penuh arti, tak hanya tong kosong yang melompong.  

Selain itu juga, ada lagi yang melatarbelakanginya yaitu masih saja terus muncul banyak pertanyaan yang belum dimengerti dan dipahami dengan baik tentang segala hal yang melintas, lewat dan berseliweran di depan mata juga pikiran. Sehingga muncullah aneka ragam tulisan aneh agak absurd yang diposting ke blog.  Pada intinya semoga semua itu berujung pada sebuah pendewasaan pribadi, supaya lebih dekat dengan pemilik ruh di raga ini. Aamiin…

ESENSI TUGAS AKHIR

Buat apa sih kita nulis-nulis tugas akhir, skripsi, tesis dan lain sebagainya. Pengen banget bisa berguna tulisan yang sudah susah payah ini dibuat dan diselesaikan. Sedih kalau cuma numpuk nganggur di lemari. Padahal waktu, tenaga, materi sudah tak terhitung keluar dalam menemani proses penyelesaian tugas akhir ini. 

Siapa bilang nggak kepake? Memang sih kepake buat referensi adik-adik kelas mahasiswa kelak. Ngebantu mereka dalam menemukan referensi, data dan lain sebagainya. Tapi masa iya sih hanya sebatas itu? berputar hanya disekitar situ. Mbok ya gahul dikit gitu, misal bisa jadi referensi penelitian tingkat provinsi, nasional bahkan internasional gitu. Bisa jadi solusi pemecahan masalah tertentu. Kendalanya salah satunya selain memang ilmu pribadi masih sangat cetek sekali, udah seusia ini masih saja bergelut pada masalah remeh temeh, esensi sebuah hidup dan segala pemikiran yang suka aneh berseliweran di otak. 

Malu hati rasanya kalau hanya berkutat disitu-situ ajah. Padahal rasa deg-degannya itu memiliki getaran skala ricther yang dahsyat di jantung. Bahkan sampai nggak bisa tidur dan nggak enak makan  di detik-detik menjelang ujian sidangnya. Menghadapi penguji dengan aneka ragam karakter dan pertanyaan yang kadang suka bikin blank duluan sebelum dijawab. Ya akibat grogi sih, tapi kalau pede dan menguasai materi oke-oke saja. 

Maka dari itu, pengen rasanya ada perubahan. Mendobrak kebiasaan yang melekat dan terlanjur berkarat ini pada tugas akhir. Dimana hanya sekedar penyelasain tugas kampus untuk memperoleh ijazah. Sekedar penggugur kewajiban tanpa ada implikasi dan aplikasi nyata di lapangan. Sekedar pemenuh rak di perpustakaan, lalu dibanting-banting dan berdebu karena menganggur tak ada yang merapihkan di gudang saja diam dengan setia. Kan nggak banget kalau terus menerus kaya gini. Males dan nggak ada kemajuannya. Jalan di tempat ajah gitu? Iihhh, kalau ceritanya kayak gini mending bisnis komersil ajah. Jelas untungnya, jelas ruginya. Tanpa perlu berkutat membuka buku, mencantumkan catatan kaki, mencari teori, seminar proposal, bimbingan sama dosen dan segala printilan lain-lainya. 

Jadi pada intinya harus ada perubahan nyata di depan. Tak elok Cuma begitu-begitu saja. Datar tak bergelombang, seperti durian tak ada durinya. Maka buat saja perubahan itu menjadi nyata, jangan biarkan air mengalir pada datar saja. Biarkan ia terjun bebas, melewati arus dan batu besar. Kalau sakit, ya biar saja. Biar belajar, lalu berpikir dan berpikir agar bertemu jalan perbaikannya dan meningkat kemampuan juga kualitasnya. 

Aduh ojan, berubah dan perubahan itu nggak mudah loh. Pasti akan lebih berat dan menegangkan cerita di dalamnya. Tapi kan memang ada harga, juga ada kualitas. Beda loh antara sepatu murah dan sepatu mahal.  Makanya nggak semua orang mau berubah dan mengubah yang kurang menjadi lebih, yang jelek menjadi bagus. Pengorbananya ituh nggak gampang. Pasti akan lebih banyak cucuran keringat dan darah di sana. Udah siap? Yakin bisa melewatinya? Yakin bisa selesai?. Ya kalau belum dicoba mana tahu. Hidup yang tak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.

Senin, 06 Oktober 2014

MAGIC - RUDE DAN RESTU ORANGTUA



Rude - Magic | Terjemahan Lirik Lagu Barat

Saturday morning jumped out of bed and put on my best suit
Sabtu pagi, melompat dari ranjang dan kenakan setelan terbaikku

Got in my car and raced like a jet, all the way to you
Naik mobil dan ngebut seperti jet, menuju rumahmu

Knocked on your door with heart in my hand
Kuketuk pintu dengan hati di telapak tanganku

To ask you a question
Tuk ajukan satu pertanyaan padamu

'Cause I know that you're an old fashioned man yeah yeah
Karena kutahu kau orang tua yang kolot yeah yeah

'Can I have your daughter for the rest of my life? Say yes, say yes
Bolehkah kumiliki putrimu seumur hidupku? Katakan iya, katakanlah iya

'Cause I need to know
Karena aku perlu tahu

You say I'll never get your blessing till the day I die
Kau bilang aku takkan pernah dapatkan berkatmu hingga hari kematianku

Tough luck my friend but the answer is no!
Kau sial, temanku, tapi jawabannya tidak!

III
Why you gotta be so rude?
Mengapa kau begitu kasar?

Don't you know I'm human too
Tak tahukah kau aku juga manusia

Why you gotta be so rude
Mengapa kau begitu kasar

I'm gonna marry her anyway
Bagaimana pun aku kan menikahinya

Marry that girl
Nikahi gadis itu

Marry her anyway
Menikahinya bagaimana pun juga

Marry that girl
Nikahi gadis itu

Yeah no matter what you say
Yeah tak peduli apa katamu

Marry that girl
Nikahi gadis itu

And we'll be a family
Dan kita kan jadi keluarga
Why you gotta be so rude
Mengapa kau begitu kasar
I hate to do this, you leave no choice
Aku benci lakukan ini, kau tak memberiku pilihan

Can't live without her
Aku tak bisa hidup tanpanya

Love me or hate me we will be boys
Sukai aku atau benci aku, kami kan punya anak laki-laki

Standing at that alter
Berdiri di atas altar itu

Or we will run away
Atau kami kan lari

To another galaxy you know
Ke galaksi lain, kau tahu

You know she's in love with me
Kau tahu dia mencintaiku

She will go anywhere I go
Dia kan ikut kemanapun kupergi



Lirik lagu grub band Magic di atas berjudul Rude (kasar). Musiknya sih asik , kaya lagi di pantai Hawai kalau di dengerin kalau nggak pakai salah sih aliran Reggae. Viewernya di tante Youtube juga sampai saat ini udah berjumlah 160.160.107 (seratus enam puluh juta, seratus enam puluh ribu, seratus tujuh) orang dari seluruh dunia. Beuh, orang semua tuh yang nonton? hihi.  Tapi liriknya itu, hmm agak kurang okeh. Karena  tidak memenuhi muatan pendidikan karakter menurut kurikulum 2013. Hehe..



Salah satu isi liriknya itu menceritakan sebuah pemaksaan atas penolakan seorang bapak yang nggak setuju anaknya nikah sama anak band. Bapaknya nggak mau kasih restu buat anaknya bahkan sampai si bapak meninggal dunia, tapi laki-laki ini dengan tegas tetap akan menikahi anaknya.lalu terjadilah friksi diantara keduanya.

Ada laki-laki yang memaksa ingin menikahi seorang gadis, tapi kok ya ngata-ngatain bapaknya si gadis itu kolot, kasar dan nggak modern banget?! Dimana korelasinya? Seharusnya kan kalau emang beneran serius mau nikahin anak gadisnya itu, ya diyakinkan setulus hati, bicara empat mata, usaha sambil tahajud dan jangan lepas berdoa. Kalau jodoh ya nggak kemana, artinya ya kalau nggak ke kamu ya ke orang lain. Kalau kata Bang Afghan, Jodoh pasti bertemu. Kalau nggak ketemu di pelaminan, ya ketemu di kondangan. Gituh  aja kok dibuat repot, tiba-tiba nyesek susah nafas, semua menjadi gelap dan ah sudahlah... (hehehe)

Kalau di Indonesia ya nggak bisalah kaya gituh. Beda budaya Timur sama Amriki sana. Kemana Ridho Orang tua yang mau dicari? Ridho Allah tergantung Ridho Orang tua. Hidup dunia sementara cin, yang abadi di akhirat sana. Kalau memang sudah saling cinta, tak bisa rasanya hidup tanpanya, kemana pun akan rela pergi asal bersama. Bahkan walau Cuma makan nasi pake garem sekalipun. Asal bersamanya bisa selalu berdua.  

Kalau sampai kaya gitu ceritanya, ya udinlah minta restu baik-baik sama bapak dan ibu dia. Bicaranya juga jangan pakai emosi, apalagi gontok-gontokan. Sekarang mah zamannya musyawarah mufakat, kalau nggak bisa juga jalan terakhir ya voting saja.  Lha wong pilih ketua DPR, ketua MPR, bahkan Presdien aja divoting, bisa juga kali dipakai buat jodoh hehe… (Guyon)

Tapi kan sekarang bukan zaman Siti Nurbaya yang mau dijodohin bukan sama orang yang nggak dicinta. Lah emang iya, siapa juga yang mau dijodohin sama datuk maringgih, mending sama laki-laki salih nan dermawan nan tampan rupawan nan baik hati ketimbang Datuk Maringgih yang rentenir ituh. Ya nggak? Siapa juga yang nggak mau, HAHA…

Atuh jangan main ambil ajah anak gadis orang. Apalagi di bawa kawin lari, capek atuh nggak sopan juga kan. Emang cinta sih katanya, sampai full nggak setengah-setengah. Tapi apa doi bisa jamin  si anak gadis ini bisa bahagianya juga full nggak setengah-setengah. Di tengah perjalanan nanti? Di ujung perjalanan hidup nanti? Apa masih bisa bahagia ? selalu dan untuk selamanya… *nyanyi. Intinya sih kelak kita akan juga jadi orang tua, jadi bicara baik-baik dan sopan tentu akan lebih dihargai ketimbang asal menuruti emosi jiwa yang katanya cinta setengah mati.

Makanya orang tua tentu punya pertimbangan, pemikiran yang jauh ke depan. Bahagianya anak bahagianya orang tua. Menderita dan kesedihannya anak, ya kesedihan berlipat-lipat yang dirasakan orang tua. Kalau memang kalian yakin bisa menjalani bahtera gonjang-ganjing rumah tangga ke depan berdua sekuat tenaga, ya sok ajah yakinkan hati orang tua masing-masing. Usaha maksimal, ambil hati orang tua, yakinkan seyakin-yakinnya. Supaya mereka percaya dan rela melepaskan anak gadisnya. Bismillah, tawakkal ilallah, Hasbi robbi Jalallah Ma Fi Qalbi Ghairullah (Cukuplah Allah yang mencukupi aku, Tuhan yang agung, Tak ada dihatiku selain Allah).

Minggu, 05 Oktober 2014

TULISAN ABSURD



Tak perlu semua hal harus  dijelaskan secara real dan nyata.

Tak harus semuanya dibuka secara gamblang dan serba kasat mata.

Biar saja mereka mengartikan sendiri, lalu biar saja mereka berpikir sendiri. Tentang maksud semua tulisan ini, tentang arti semua tulisan ini.

Mandirilah sendiri, tak perlu lagi penjelasan berlebih tentang apa dan kenapa tulisan ini dibuat. Buat saja kesimpulan sendiri tentang yang dilihat dan didengar juga dibaca. Tak perlulah kiranya meminta suapan nasi pada ibu sendiri, padahal tangan masih bisa bergerak dan kaki masih mampu berdiri.

Tapi, kalau salah menafsirkan tulisan bagaimana? Pikiran manusia kan beda-beda.

Biar saja begini. Walaupun tulisan yang ditulis lebih banyak absurdnya. Sampai kemudian tak banyak yang mengerti ini tulisan.

Tapi biar saja begini. Biarpun juga angka grafik di statistik blog edit tidakk kunjung naik dan masih juga bulat telur alias tidak ada yang berkunjung.

Biar saja dahulu. Bahkan, walau yang mengerti kadang tak tertarik meneruskan lalu menghabiskan membaca tulisan ini. kemudian berlalu dan pergi tanpa jejak berarti.

Tapi biar saja begini. Tetap saja menulis, entah absurd atau tidak absurd yang utama adalah latihan jemari supaya gemulai menari di atas keyboard, latihan otak agar lihai meramu kata dan latihan hati agar lapang menghadapi semua.  

Tak inginkah menjadi terkenal lalu puja dan puji dimana-mana. Lalu melupakan keabsuradan ini.

Tak maukah menjadi dikenal lalu sanjung menyanjung dimana-mana. Kemudian melupakan keabsudran ini.

Siapa pula yang ingin dipuja lalu dipuji tapi tak lama dicaci juga dimaki. Siapa pula yang ingin di sanjung lalu menyanjung tapi di belakang panggung etika diri tak dijunjung.

Lalu bagaimana kau mau dikenal jika masih saja absurd. Tak komersil apalagi ngepop. Seperti kolot, tak mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan perubahan yang ada dan sedang ngetrend berkembang.

Maka haruskah seragam sekolah tetap dipakai saat pergi berenang?

Maka haruskah seragam kerja tetap dipakai saat pergi berkebun?

Jika ditanya tentang kaya? Maka siapakah orang yang tak ingin emas? apalagi jika emas bisa datang sendiri tanpa harus digali. Tapi sayang emas tak berkaki, dia tak mampu berjalan sendiri dan butuh proses panjang sebelum sampai ke lemari pribadi.

Tapi uniknya itu, menulis membawa pencerahan sendiri buat diri pribadi. Walaupun hasil tulisan itu absurd dan tak jelas asal juga akhirnya, walaupun juga tulisan itu aneh dan tak ada maknanya. 

Tapi menulis membawa terang di hati, seperti ada pentromak di dalam gelap gulitanya sebuah gua di bawah gunung.

Faktanya juga luka akan mudah sembuh dengan menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Jadi bisa dikatakan menulis itu terapi pengobatan buat hati tanpa perlu mengantri ke psikolog dan psikiater untuk konsultasi.