Minggu, 05 Oktober 2014

20 FACTS ABOUT ME



Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun, Karena yang menyukaimu tidak membutuhkannya. Dan yang membencimu tidak akan mempercayainya” (Ali Bin Abi Thalib)

Tulisan di atas itu didapat dari kiriman picture seorang teman. Walaupun sebenarnya memang yang lebih tahu tentang diri kita pribadi itu Allah SWT, dan saya pun masih banyak belajar mengenal diri yang belum bisa konsisten dan kadang masih suka berubah-ubah. Nggak ada maksud apa-apa, dan juga nggak bermaksud famous menyaingi Syahrini. Sekedar menginformasikan dan memberi tahu pada khalayak ramai bahwa pernah hidup seorang manusia di planet biru ini, yang lebih menyukai hal yang sederhana dari pada yang mewah-mewah. (padahal emang nggak punya juga hehe..)

WHO AM I? Sudah setua ini kadang masih ragu menjelaskan tentang diri pribadi. Padahal setiap hari ngaca depan cermin, dan setiap hari juga ruh nggak pernah absen hadir mengisi raga. MAka saat seorang teman meminta menuliskan dan menjawab tantangan #20factsaboutme, maka jadilah begini adanya. 



1.       Belum pernah posting tulisan blog tentang pendidikan dan yang berbau hubungan internasional padahal kuliah jurusannya ituh *maluhati
2.       Susah untuk berekspresif dan seringnya datar, padahal banyak cinta di dalam hati *eeaa..
3.       Mudah terharu kalau yang berhubungan dengan cerita tentang orang tua
4.       Suka standupcomedy karena kalo shitdowncomedy itu nggak sopan *haha (baca:Garing)
5.       Kalau marah ya diam, males mengumbar emosi *capeati
6.       Mudah bentol-bentol kalau digigit nyamuk, katanya sih darah manis padahal ngarepnya wajah manis hihihi
7.       Omnivora alias semua makanan suka, emang males juga nyari-nyari makanan yang lain. Jadi yang ada aja dimakan
8.       Lebih suka kasih kado buku ke keponakan dari pada duit buat jajan di warung yang bikin mereka konsumtif
9.       Kalau sudah bosen dan mumet pengennya tidur seharian
10.   Suka sama teh tarik belakangan ini, rasanya unik ada manis, legit dan gurih 
11.   Anak cewek terakhir di keluarga, jadi sering banget dapet segalanya itu lungsuran warisan kakak-kakak di atas, dari pada beli juga kan… #nrimoajalah *alhamdulillah
12.   Cita-cita pengen bisa snorkeling di Derawan atau Raja Ampat, kalau bisa honeymoon disana hihi
13.   Turki  jadi Negara impian banget yang pengen dikunjungin terus diubek-ubek
14.   Sayang UmiAyah, walau jarang diungkapkan secara verbal tapi cintaku padamu tak akan berubah walau ditelan waktu… *nyanyiitapurnamasari
15.   Nggak suka basa-basi apalagi menjilat atasan, mending jilat eskrim. Enak  manis dingin-dingin huahaha…
16.   Katanya ayah suka lengotan padahal kan manusia itu emang tempatnya salah dan khilaf
17.   Pingin bisa jadi leader yang baik,tegas dan wise 
18.   Penyuka karya-karya BuyaHamka, Tereliye, Taufiq Ismail dll 
19.   Lebih suka pakai sepatu flat dari pada high hells
20.   Berusaha meniatkan semua aktifitas dan kegiatan yang dikerjain itu untuk ibadah karena Allah, agar nggak Cuma bernilai dunia tapi juga bisa bernilai akhirat…  jadi kita hidup di dunia ini nggak rugi guys. Kan sesuai dengan kalamullah yang mengatakan “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
 

 Yihaaa, udah 20  cerita tentang dirinya nih kaka Amah Majida.  Walau nggak ada menarik-menariknya dan amazing, tapi mudah-mudahan bisa diambil pelajaran dan hikmah di dalamnya (Sok Iya Banget, hehehe). Walaupun, agak rancu facts about me yang saya tulis ini sama daftar impian pribadi, tapi nggak apa-apalah ya namanya juga usaha. hihihi ….

BLOG CHALLENGE



Berawal dari hasil ngobral-ngobrol bareng Dewi Indriati di kantin kampus uenjeh, sambil menunggu waktu ujjian komprehensif di Jum’at siang menjelang Ashar. “Gimana kalau kita buat tantangan bikin 30 tulisan dalam sebulan buat di blog”. Ini serius gituh? Secara dalam sebulan kadang posting tulisan saya hanya sanggup di angka 5-7, belum ada yang puluhan jumlahnya.  Terus dengan santai, “15 dulu aja keles, kalau 30 kayanya terlalu diporsir, kalau dapet gaji si enak…” hehe. Sebenarnya maksud dan tujuan tantangan ini ialah supaya kami bisa lebih kreatif, alias memacu keseriusan kami berdua supaya lebih mengasah bakat, dan memunculkan kemampuan personal.  Sebenarnya yang lebih penting adalah apakah kita bisa melawan rasa malas menulis ini dan bisa menjadi insan produktif. Alhamdulillah memang hobi dan kesukaan kami sama yaitu menulis. Mulai dari yang nggak penting, sepele sampai yang dipenting-pentingin.  

Maka sepakatlah kami untuk memulai dan menjalani tantangan ini di bulan Oktober 2014. Wets! Jangan main-main, rival saya kali ini seorang pendidik dengan segudang aktivitas. Mulai dari Jualan Online, guru SMA, owner Bimbel, istri salihah (aamiin ^_^) dan gurunya mahasiswa alias dosen cin. Mantap kan…

Kira-kira apakah kami bisa menyelaskan misi tantangan ini? Waktu yang akan menjawabnya. Dan supaya lebih seru, kami juga sepakat untuk membuat punishment bagi yang tidak bisa menyelesaikan tugas ini. Apa ya yang seru buat punishment? Hmm.. hadiah buku aja ya wi??? Bagaimana kalau yang kalah wajib membelikan Buku RINDU by Tereliye.  Setujuh ya wiii… *kedipkedipmanja

Baiklah, mari memulai tantangan ini dengan bismillah. Moga kita berdua bisa lebih kreatif dalam meramu dan meracik kata-kata menjadi rangkaian kalimat dan kumpulan paragraf indah dan bermakna (Sok Iya hihi). Eits, lebih tepatnya lagi semoga kelak kita berdua bisa menulis ilmiah atau opini yang membahas mengenai MANAJEMEN PENDIDIKAN. Secara kita berdua ini dipertemukan di jurusan dan kampus yang katanya “Pencetak Pendidik Unggulan” uenjeh tercintah. Selain biar ketara mahasiswa Menejemen Pendidikannya, juga supaya ilmu segala teori dan gagasan yang dipelajari, didalami dan diajarkan sang maha guru ini istilahnya benar-benar berguna dan bermanfaat kepada kita semua para pencari dan pecinta ilmu. Aamiin…   

Kamis, 25 September 2014

JANGAN DIKUBUR!



google.com
Semua manusia punya masa lalu. Baik suka juga duka, yang merana juga bahagia, yang ceria maupun menderita. Semua punya masa lalu. Kumpulan kenangan tentang semua hal dalam hidup. Tumpukan memori yang membuat hati kadang merinding saat mengingatnya. Malah kadang menangis bahagia atau ada juga yang menangis tersedu haru menyesali semuanya.

Tapi masa lalu itu jangan dikubur!

Buang saja jauh-jauh dan sejauh mungkin. Apalagi masa lalu yang pahitnya laksana empedu, yang menjengkelkan hati dan menusuk dalam ke kalbu sampai membiru. Masukkan saja dia ke plastik lalu lemparkan sejauh mungkin sekuat tenaga. Bisa di darat, bisa di hutan bahkan bisa juga di tengah laut. Atau kau bisa membawanya ikut serta naik pesawat lalu jatuhkan dia dari ketinggian ribuan kaki lewat jendela pesawat. Bukan biar lupa,  tapi biar dia tak lagi kembali untuk menyakiti. Sehingga luka basahnya pun bisa segera kering lalu berganti sel dan kulit baru.

Kalau masa lalu itu dikubur, maka saat ada angin topan nan badai dan tsunami datang menerjang, gundukan tanah kuburan itu akan bisa kembali terbuka. Naik ke permukaan lalu kembali ke atas dan tak lama datang menghampiri sendiri. Padahal telah dalam galian tanahnya, tapi sayang bumi kembali memuntahkannya, entah karena apa. Lalu dia pun akan bertamu tanpa perlu mengetuk pintu lebih dulu.

Maka jangan kubur masa lalu! 

Buang saja jauh, lemparkan sekuat tenaga ke belahan lain lalu tinggalkan pergi. Jangan lagi ditengok nanti geer dia dibuatnya. Bukan untuk dilupakan tapi disingkirkan. Biar saja dia pergi melayang bersama angin,  terbawa arus sungai, tergulung ombak, termakan binatang buas atau bahkan terbang bersama debu dan daun kering. 

Lalu bernafaslah lega, hiruplah udara tanpa perlu gulana, karena masa lalu yang telah pergi. Dan jika pun nanti dia kembali, maka tak perlu sedih hati menangisi. Yakinlah pada Illahi Rabbi, kalau semua yang telah hilang dan pergi, kelak akan berganti dengan kebaikan sejati yang hakiki.

Rabu, 24 September 2014

BUKU VS FILM



sumber: google.com
Ada yang mengaku lebih suka nonton film ketimbang baca buku. Katanya pusing baca buku mah, banyak huruf-huruf gitu,  bikin males. Lebih asik dan seru langsung nonton filmnya, enak nggak pake mikir. Terus ada lagi yang bilang, “Ahh film nggak asik, ceritanya kurang dalem, lebih seru baca bukunya”. Filmnya nggak sebagus bukunya, banyak cerita di buku yang kelewat dan nggak mewakili cerita di buku. Nah, kalau temen-temen sendiri gimana? Pilih baca buku atau nonton film?

Beda kebiaasan, beda karakter jadi beda juga kesukaannya. Nggak bisa disamaratakan, emang jalanan aspal mesti rata? Hmm, nggak ada salahnya sih kalau kalian lebih nyaman nonton film dari pada baca buku. Bukan berati juga sih yang lebih suka nonton film itu  orang yang ingin selalu serba praktis dan simple. Dan bukan berati juga orang yang lebih suka baca buku itu termasuk orang yang detail, ribet dan perfectsionis.

Tapi yang jelas, kalian bebas kok memilih mana yang lebih kalian sukai dan nyaman. Bebas pula berpendapat tentang ini dan itu, asal jangan sampai menyebut merk, menyudutkan dan menghina pihak tertentu dan orang lain. Jadi yang wajar dan normal-normal saja agar aman sentosa semuanya. *peace…

Kalau saya pribadi memang lebih suka baca bukunya secara langsung, ketimbang menonton filmnya. Karena kalau di buku terasa banget dalemnya. Ini sih yang saya rasakan, nangis dan sesunggukannya itu lebih dapet. Feelnya juga lebih kena menohok ke hati *lebay hehe. Beda  sama  nonton film, imajinasi sutradara nggak sama dengan imajinasi kita pembaca buku. Setiap kepala punya imajinasi dan feel yang beda. Jadi cerita yang diinterpretasikan sang sutradara dari buku kadang kurang ngena. Feelnya kurang banget, padahal kadang itu adalah inti cerita yang super dasyat. Eh, pas di filmkan justru yang ada datar saja, malah kadang terpotong dan melompat begitu saja, karena terbatasnya durasi. Kaciwa dong jadinya kita, kok gini sih? Kok kaya gitu sih? Iih sebel sebel sebel. Hehehe

Dari yang udah-udah sih, jelasnya ada saja kurangnya kalau karya cerita sebuah buku terus difilmkan. Bukan karena sutradaranya ini nggak pintar loh, tapi memang nggak semua plot dan alur cerita di buku itu bisa divisualisasikan secara benar dan konkrit oleh sutradara, sesuai dengan imajinasi para pembaca bukunya. Eh, bukan berati juga sutradara ini nggak jago loh tapi sutradara kan juga manusia, ada batas nalar dan daya pikir yang berbeda pada setiap kepala manusia. Terlebih imajinasi isi kepala manusia itu beda dan banyak macam juga rupanya.

sumber: google.com
Selain terbatasnya durasi waktu, ada hal juga yang jadi patokannya, yang paling utama adalah faktor komersil. Sampai kadang hilang idealisme penulisnya saat sudah jadi film, hal ini karena tak ada kawalan ketat sang penulis buat bapak sutradaranya. Mana pakem yang harus di tonjolkan, mana pakem yang jangan dilebih-lebihkan. Kadang karena demi menarik pasar hal-hal yang biasa saja di alur buku, eh dibumbuin berlebihan. Jadi rame sih, tapi inti sari ceritanya itu malah jadi ngeblur alias samar berkabut.  Alhasil pesan penulis buku buat para pembacanya justru jadi beda sama pesan difilm yang ditangkap para penonton. Nggak balance alias nggak seimbang, malah jomplang. Idealisme penulisnya tersamarkan oleh kelebayan adegan-adegan yang dikarang sutradara demi komersialitas pasar. 

Kembali lagi, semuanya ada plus minusnya. No body perfect! Maka  jangan menuntut banyak dan memaksa kesempurnaan cerita dari sutradara jika kalian bukanlah Bapak Produsernya. Hehe…