Rabu, 10 September 2014

SEMUA TERSERAH ALLAH



Semua terserah Allah,  apapun yang menimpa dan apapun yang terjadi
Semua terserah Allah tentang semua yang menjadi jawab atas segala harapan
Semua terserah Allah akan segala ikhtiar yang telah dilakukan dan dilewati
Semua terserah Allah, mengenai ini dan itu yang harus terjadi dan harus dilalui
Semua terserah Allah, tentang bagaimana nanti dan masa depan
Semua terserah Allah tentang maju atau mundurnya atas segenap asa

Semua terserah Allah
Tentang segalanya
Tentang semuanya
Tentang luka dan sakitnya sesuatu

Semua terserah Allah
Tentang ingin dan mau
Tentang niat dan ikhtiar
Tentang gundah dan gulana
Tentang senang dan bahagia
Tentang segala-galanya

Semua terserah Allah, karena sejatinya manusia tak ada arti tanpaNya, tanpa pertolongan dariNya, tanpa kasih dan sayangNya, tanpa kemurahanNya, tanpa kebaikanNya, maka tak akan mampu manusia melakukan segalanya.

Semua terserah Allah
Pemilik hati dan jiwa
Penggenggam ruh dan nyawa
Pencipta tubuh dan raga
Penakluk langit dan tata surya
Penguasa alam semesta
Pemilik jagat raya

Semua terserah Allah dan karena semua akan kembali pada Allah.
Semua akan berpulang pada Allah.
Semua akan tiada dan tak ada. 
Entah sekarang, hari ini atau sedikit lagi.

Semua terserah Allah akan segala kegundahan hati dan duka
Semua terserah Allah, karena bahagia adalah dariNya dan pemberianNya
Semua terserah Allah karena ceria adalah kemurahanNya

Jadi tak perlu marah
Jadi tak usah kecewa
Jadi tak guna sedih
Jadi tak elok bersakit
Karena kesempatan di depan mata adalah karunia dariNya. 
Dan tak semua orang bisa mengalaminya. Maka wajiblah kiranya untuk bersyukur dan menghormatiNya.

Maka usaplah kabut duka, Hapus sedih dan kucuran air mata, basuh gelisah, karena waktu terus berjalan, bumi berputar dan akan ada esok, lalu esok dan esok berikutnya.

Tak harus membenci
Tak baik memarahi
Semua rasa adalah karunia dariNya
Marahmu ganti saja dengan senyum dan tawa
Supaya bahagia terasa

Bismillah saja
Tawakkal saja
Jalani saja
Berserah saja
Berani saja
Percaya diri saja
Yakin saja bahwa semua sesungguhnya adalah baik adanya.

Semua terserah Allah

Minggu, 07 September 2014

AWAL




Berawal dari tiada lalu kemudian menjadi ada
Berawal dari kesulitan lalu lahir kemudahan
Berawal dari tidak tahu lalu kemudian menjadi ahli
Berawal dari tidak bisa lalu kemudian menjadi mahir
Berawal dari tidak mengenal lalu kemudian mencintai
Berawal dari tidak percaya diri lalu kemudian berani maju sendiri
Berawal dari kecil lalu kemudian menjadi besar
Berawal dari pertemuan lalu kemudian berakhir perpisahan
Berawal dari tak dianggap lalu kemudian menjadi tersohor
Berawal dari sedih penuh duka lalu kemudian bahagia bertabur tawa
Berawal dari gelap hanya hitam lalu kemudian dating cahaya terang benderang
Berawal dari pendek lalu kemudian tinggi menjulang
Berawal dari tak punya lalu kemudian menjadi serba punya’

Semua berawal pada satu hal dan bermula sebelum sampai pada garis finisnya

Semua bermula pada awal dan akan berakhir pada garis finis

Maka apa kau berpikir akan terus ada dan abadi? Tetap sama dan tak ada yang berubah? Tembok bercat putih di depan rumahmu saja akan menjadi lapuk kelamaan. Termakan usia, usang terpapar sinar matahari, lapuk tergerus rayap dan lalu hancur tak bersisa.

Dari tiada dijadikan ada lalu kembali akan tiada 




JELAJAH KATA



Seribu kata banyak makna
Yang terlihat dan tersembunyi
Seribu kata banyak tafsir
Yang tersirat dan tersurat
Seribu kata banyak arti
Yang luas dan singkat
Seribu kata banyak maksud
Yang nyata dan imaji

Dari seribu kata banyak huruf yang tersusun rapi, dipadu padankan sampai apik terasa, diramu agar sampai maknanya, diracik supaya bagus kalimatnya. Sampai lalu berpuluh-puluh paragraph saling terhubung dan menghubungkan. Sampai kemudian jadilah satu cerita penuh kata.

Bertumpuk kata di sana, di buku cerita yang dibuat ada, antara fakta dan khayalan, disengaja atau tidak disengaja. Merangsek masuk ke pelosok, menelisik ke setiap sendi, memaksa masuk di celah kanan dan kirinya. Sampai lalumenjadi beribu paragraph. Campur aduk rasa si pembaca. Bahkan air mata datang sendiri, karena hati bicara katanya.

Tak ada sembarang kata, yang ada hanya gurauan semata. Maka jangan dianggap kumpulan kata di buku ini tak ada, apalagi main-main dan dirasa kebetulan karena memang ini nyata walau kadang imaji hanya. Huruf –huruf di sana pun tak semena-mena ditaruhnya, semua dibuat seolah ada dan nyata, agar cerita dengan seribu kata ini terasa sempurna. Lalu mewujudlah dia, pada sebuah buku yang di dalamnya adalah kumpulah dari jelajah kata.

Minggu, 31 Agustus 2014

MELAWAN TAKDIR



             Ada yang hendak melawan takdir, usia bertambah namun tak mau dianggap tua.  Apalagi dibilang lanjut usia. Padahal sudah lebih setengah abad dia hirup dengan gratis udara di bumi.  Sudah lebih setengah abad pula dia membuka matanya. Namun saat mendengar kata MATI, matanya seolah tak bisa terpejam, udara yang dihirupnya pun seakan tak mau mampir ke hidungnya. Dada sesak, mata kering tak bisa lelap. Pikirannya melayang bukan karena takut MATI, tapi karena dia masih merasa muda dan tak pantas untuk MATI,  masih banyak yang lebih tua dan itu baginya lebih pantas pergi lebih dulu. Rasanya tak adil jika dia harus mati, walau usia sudah lebih setengah abad, tapi jiwanya masih muda “katanya”. Maka segala suntik pun dia lakoni untuk menahan kulit di wajahnya tetap ke atas dengan sempurna, tidak menggelambir apalagi harus mengkirut bergaris macam kulit jeruk yang akan membusuk.
Sayang seribu sayang, cairan kimia itu awalnya memang berhasil membuatnya semakin percaya diri, segala event dan pesta dia datangi bahkan yang tak di undang pun dia hadiri guna memperlihatkan eksistensi diri dan wajah kencangnya yang mulus sempurna. Sampai senyum pun tak pernah pergi sejenak dari wajahnya. Pujian dan rayuan mampir kepadanya, bahkan dia pun sempat berbunga-bunga saat ada lelaki yang baru seminggu menyandang status duda mengajaknya untuk makan malam Jumat depan. Tapi tepat Senin dini hari, dia tak menyadari cairan kimia yang dibilang botox itu tak diterima oleh darah di tubuhnya. Ada perlawanan yang terjadi pada metabolisme tubuh perempuan setengah abad itu. Sampai saat dia berkaca bukan lagi wajah kencang nan mulus yang ada di cermin, tapi lima gumpalan berlendir di wajahnya. Dua di atas matanya, dua di pipi kanan dan kiri, satu di dagu. Betapa kaget dan terkejutnya dia. Tiba-tiba kepalanya sakit dan sulit bernafas. Dari mana gumpalan ini? Apa dia lupa meminum obat? Atau jangan-jangan ada yang hendak berniat jahat padanya dan mengirimkan santet?. Segala macam pikiran jahat berlari, lalu berputar di otaknya. Langsung saja diambil Hp tipe terbaru di atas kasurnya dan menelpon dokter kulit langganannya yang lulusan Amerika Serikat itu. Semua kepanikannya dimuntahkan, kemarahannya dia lepas saja sampai tak sadar emosinya itu justru membuat gumpalan-gumpalan di wajahnya berkedut sampai nyeri.
Betapa tercengangnya sang dokter saat melihat perubahan drastis wajah pasiennya, dari mana gumpalan ini muncul, padahal pasien tak punya riwayat alergi obat dan sebagainya. Namun sebagai dokter, ia harus tetap tenang menghadapi situasi segawat apapun, maka ia pun mencoba tetap tersenyum mencari solusi terbaik bagi pasien setianya. Ia segera menulis resep obat dan meminta sang pasien untuk menebusnya di apotek terdekat. Bukan obat paten penghilang gumpalan tapi hanya sekedar obat penghilang rasa nyeri sebagai tahap awal. Dua hari berikutnya gumpalan sedikit mengempes dan nyeri perlahan mulai berkurang, ia masih punya waktu tiga hari untuk meyembuhkan gumpalan di wajahnya sebelum acara makan malam bersama Duda baru di Jumat malam. Berharap bisa sembuh lebih cepat maka dia pun meminum obat itu lebih dari yang dianjurkan dokter. Tak ada gejala yang aneh di awal tapi kelamaan lambungnya perih, perutnya seperti dikuras. Cairan hijau kekuningan keluar dari mulutnya bersama darah, dia pun hilang kesadaran. 
Sang dokter kulit lulusan Amerika Serikat tak tahu pasien setianya masuk ICU, ia sedang berlibur di luar negeri di Pantai Hawaii menikmati hasil keringatnya berjualan obat awet muda di negerinya. Sudah seminggu perempuan berusia setengah abad itu tak sadarkan diri koma di Rumah Sakit dan sang Duda baru pun sampai bingung gebetan barunya itu tak bisa dihubungi, maka otak kreatifnya memunculkan ide segar. Dia memutuskan untuk mengajak perempuan tua lain yang kaya raya sebagai ganti teman makan malamnya. Walau  tak secantik gebetan sebelumnya tapi cukup lumayan, menghilangkan cemasnya karena khawatir cairnya uang asuransi almarhum istrinya tak bisa menutupi hutangnya di bank. Beruntunglah perempuan mengiyakan ajakan makan malamnya karena sayang katanya jika dibatalkan.
Dunia yang dia tempati sekarang terasa asing baginya, tak ada yang dia kenal. Maka dia pun hanya duduk saja di bawah pohon dengan wajah menunduk seolah ada sesal yang menumpuk sampai menggunung di dadanya. Ia sedih dan sedikit gemetar, ada perasaan takut yang menyelimuti dirinya sekarang, tapi ia tak tahu takut karena apa. Dadanya terasa berat selah ada tumpukan batu yang menindihnya. Maka kepalanya menunduk semakin dalam, ia tak berani mendongakkan kepalanya lalu melihat sekitar. Sampai lalu ada yang menepuk pundaknya pelan. Senyum mengembang dengan tulus darinya, siapa perempuan berparas teduh di depannya sekarang? Tanpa basa-basi perempuan berparas teduh ini menggandeng tangannya lalu mengajaknya berkeliling. Dan dia masih tetap menunduk awalnya, namun semakin jauh kakinya melangkah, semakin berat terasa tubuhnya seolah kaki tak mampu melangkah lagi karena terlalu berat menopang bobot tubuhnya. Hanya hamparan rumput dengan satu dua pohon besar yang meneduhkan dan hanya ada dia dan perempuan berparas teduh di sana.
Kebingungan mulai merayapi pikirannya, hendak dibawa kemana dia. Tak ada orang lain di padang rumput sebesar ini, hanya sekumpulan kupu-kupu berwarna emas di balik bunga dan pohon besar. Namun lama-kelamaan genggaman tangan perempuan berparas teduh ini semakin kencang memegang telapak tangan kanannya, kencang sekali seolah mau meremas tulang jemarinya. Dia hendak berteriak tapi tak ada suara yang keluar, ia hendak menangis menahan sakit tapi tak ada air mata yang menetes, ia hendak berontak mencoba melepaskan diri tapi tak ada tenaga yang terkumpul. Seolah pasrah saja yang bisa dia lakukan, wajahnya meringis kesakitan tapi perempuan berparas teduh ini tak peduli, ia tetap mencengkeram kencang telapak kanannya. Namun anehnya ia mencengkeram sambil tetap tersenyum dan tak lelah mengajaknya terus berkeliling. Sampai kelamaan darah segar menetes dari telapak kanannya akibat gesekan cincin emas yang tertekan genggaman perempuan berwajah teduh itu. Sakitnya bertambah, kini perih sekali telapak tangan kanannya terlebih saat lukanya tersapu angin berair. Angin di sini bercampur percikan-percikan air.
Tiba-tiba langkah kaki perempuan berwajah teduh itu berhenti, tepat di depan telaga air yang bening airnya. Lalu tiba-tiba saja perempuan berwajah teduh itu menghilang seketika. Tak ada jejak yang tertinggal, bahkan berpamitan pun tidak. Rasa takut menggelayuti dirinya, matanya mengendar pandang mencari sosok perempuan berwajah teduh, tapi nihil karena hamparan padang rumput itu kosong melompong.
Tiba-tiba ia dikagetkan dengan percikan air dari ikan-ikan yang melompat di telaga. Matanya menangkap suatu hal yang tak biasa di sana, ada pusaran gelombang air di tengah telaga. Merasa penasaran, ia pun memutuskan untuk melangkah lebih dekat ke telaga, namun sayang kakinya terasa berat sekali melangkah, maka ia pun terpaksa harus berjalan dengan mengesot mendekati telaga air itu. Ajaib! Betapa tercengangnya ia melihat wajahnya di telaga air kini bebas dari gumpalan-gumpalan berlendir dan kembali mulus. Dirinya senang bukan kepalang.
“Aku bisa datang makan malam bersama di Jumat malam…”
            Dua detik kemudian terdengar suara bunyi menggelegar dari terompet yang ditiup.

2014